Sivitas Akademika UTU Diminta Menyuarakan “Geurutee”
  • UTU News
  • 26. 03. 2020
  • 0
  • 124

MEULABOH - UTU | “Kami mohon Sivitas Akademika Universitas Teuku Umar (UTU) dapat menyuarakan kondisi Geurutee, Kabupaten Aceh Jaya. Dilihat dari aspek geoteknik, Geurutee itu sudah tidak layak lagi dilalui oleh manusia. UTU harus menjadi leading sektor untuk sebuah insfrastruktur”, harap Prof. Munirwansyah.

Harapan Prof. Dr. Ir. Munirwansyah, M. Sc, Guru Besar Jurusan Teknik Sipil Program Pascasarjana-Universitas Syiah Kuala (Unsyiah) disampaikan ketika bincang-bincang dengan Tim UTU News, di Banda Aceh.

Prof. Munirwansyah meminta kepada Dinas PU tingkat II yang ada di Barat Selatan Aceh, dapat segera mengusulkan ke Bappeda Aceh, Geurutee itu harus segera ditangani. Jalan sebelah tebing dalam itu bagian bawah sudah multiple body (sudah berbadan banyak) artinya sudah ada garis-garis retak semua.

“Kita minta jalan Geurutee dapat ditangani secara perfek, suarakan itu. Unsyiah sudah berkali kali menyuarakan-nya. Kalau besok terjadi sesuatu, sivitas akademika tidak salah lagi”, ucap Prof. Munirwansyah dengan penuh serius.

Prof. Munirwansyah menyebutkan, dalam suatu pertemuan pernah menyampaikan kondisi Geurutee di depan Sekda, di depan pejabat PU dan Perhubungan, “Kalau bapak tidak mampu mengatasi Geurutee ini, bapak pasang aja gambar sebelum masuk Geurutee, ‘seorang nenek lagi pegang payung diatasnya jatuh batu’. Mampukah payung itu menahan batu yang jatuh dari gunung? Inilah tugas pemerintah memperkuat tebing.

Tebing tersebut sebenarnya dari dulu sudah harus ditangani. Tebing yang selalu kita lalui itu terbuka begitu saja. Seperti baru-baru ini satu mobil pick up jatuh dan menelan korban jiwa. Demikian halnya dengan Seunapet yang terletak di Jalan Nasional Banda Aceh-Medan, Wilayah Pegunungan Seulawah, Kabupaten Aceh Besar, merupakan salah satu tikungan yang rawan terjadi kecelakaan lalulintas.

Dari segi engginering sudah dievaluasi dan ternyata bukan Seunapetnya yang salah, tetapi desain-nya yang salah. Berarti ini ke-PU-an yang salah. “Dinas selalu menyalahkan pemakai jalan. Gak pernah koreksi diri. Cob baca Koran”, tegasnya. Tugas pemerintah juga melindungi rakyatnya dari segala aspek. Kalalu terjadi kecelakaan, Dinas PU dan Dinas Perhubungan yang menanganinya, tidak bisa diserahkan ke polisi. Artinya, insfrastrukturnya harus dirubah. Geometriknya itu salah. “Masih banyak tikungan terpaksa, masak sampe sekarang masih seperti itu”. (***) 

Lainnya :